Home » » Jenis - Jenis Bedah Sesar

Jenis - Jenis Bedah Sesar

Written By Joko saputro on Saturday, January 11, 2014 | 3:40 AM


Jenis – jenis bedah sesar diantaranya:
1.       Jenis klasik yaitu dengan melakukan sayatan vertikal sehingga memungkinkan ruangan yangn lebih besar untuk keluar bayi.
  1. Sayatan mendatar dibagian atas dari kandung kemih, metode ini bisa minimimalkan resiko terjadinya pendarahan dan penyembuhannya lebih cepat.
  2. Histerektomi bedah sesar yaitu bedah sesar diikuti pengangkatan rahim, Hal ini dilakukan dalam kasus-kasus dimana pembedahan yang sulit tertangani atau ketika plasenta tidak dapat dipisahkan dari rahim.
  3. Bedah sesar berulang dilakukan ketika pasien sebelumnya pernah menjalani bedah sesar, umumnya dilakukan pada bekas luka sayatan.
5.       Operasi bedah sesar terencana (elektif)
Pada operasi bedah sesar terencana (elektif), operasi bedah sesar telah direncanakan jauh hari sebelum jadwal melahirkan dengan mempertimbangkan keselamatan ibu maupun janin. Beberapa keadaan yang menjadi pertimbangan untuk melakukan operasi bedah sesar secara elektif, antara lain :
Pertama, Janin dengan presentasi bokong : Dilakukan operasi bedah sesar pada janin presentasi bokong pada kehamilan pertama, kecurigaan janin cukup besar sehingga dapat terjadi kemacetan persalinan (FETO PELPIC DISPROPORTION), janin dengan kepala menengadah (DEFLEKSI), janin dengan lilitan tali pusat, atau janin dengan presentasi kaki.
Kedua, Kehamilan kembar : Pada kehamilan kembar dilihat presentasi terbawah janin apakah kepala, bokong, atau melintang. Masih mungkin dilakukan persalinan pervagina jika persentasi kedua janin adalah kepala-kepala. Namun, dipikirkan untuk melakukan operasi bedah sesar pada kasus janin pertama/terbawah selain presentasi kepala. Pada USG juga dilihat apakah masing-masing janin memiliki kantong ketuban sendiri-sendiri yang terpisah, atau keduanya hanya memiliki satu kantong ketuban. Pada kasus kehamilan kembar dengan janin hanya memiliki satu kantong ketuban, resiko untuk saling mengait/menyangkut satu sama lain terjadi lebih tinggi, sehingga perlu dilakukan operasi bedah sesar terencana. Pada kehamilan pasien dengan jumlah janin lebih dari dua (misal 3 atau lebih), disarankan untuk melakukan operasi bedah sesar terencana.
Ketiga, Plasenta previa : artinya plasenta terletak dibawah dan menutupi mulut rahim. Karena sebelum lahir janin mendapat suplai makanan dan oksigen, maka tidak mungkin plasenta sebagai media penyuplai lahir/ lepas terlebih dulu dari janin karena dapat mengakibatkan kematian janin. Plasenta terdiri dari banyak pembuluh darah, lokasi plasenta yang menutupi jalan lahir, sangat rawan dengan terjadinya pendarahan. Apabila terjadi kontraksi pada rahim, maka sebagian plasenta yang kaya pembuluh darah ini akan terlepas dan menimbulkan pendarahan hebat yang dapat mengancam nyawa janin dan ibu.
Keempat, Kondisi medis ibu : preeklamsia, kencing manis (diabetes militus), herpes, penderita HIV/AIDS, penyakit jantung, penyakit paru kronik, atau tumor rahim (mioma) yang ukurannya besar atau menutupi jalan lahir, kista yang menghalangi turunnya janin, serta berbagai keadaan lain merupakan hal-hal yang menyebabkan operasi sesar lebih diutamakan.
Kelima, Masalah pada janin : Misanya pada janin dengan oligohidramnion (cairan ketuban sedikit) atau janin dengan gangguan perkembangan.

6.       Operasi bedah sesar darurat (Emergency)

Yang dimaksud operasi bedah sesar darurat adalah jika operasi dilakukan ketika proses persalinan telah berlangsung. Hal ini terpaksa dilakukan karena ada masalah pada ibu maupun janin. Beberapa keadaan yang memaksa terjadinya operasi bedah sesar darurat, antara lain :
Pertama, Persalinan macet : keadaan ini dapat terjadi pada fase pertama (fase lilatasi) atau fase kedua (ketika pasien mengejan). Jika persalinan macet pada fase pertama, dokter akan memberi obat yang disebut oksitosin untuk menguatkan kontraksi otot-otot rahim. Dengan demikian mulut rahim dapat membuka. Ada teknik lain, yaitu memecahkan selaput ketuban atau memberikan cairaan infus intrafena jika pasien kekurangan cairan /dehidrasi. Jika cara-cara itu tidak berhasil, maka operasi bedah sesar akan dilakukan.
Jika persalinan macet pada fase kedua, dokter harus segera memutuskan apakah persalinan dibantu dengan vakum atau forsep atau perlu segera dilakukan operasi bedah sesar. Hal yang menjadi   pertimbangan untuk melanjutkan persalinan pervagina dengan alat (berbantu) atau operasi bedah sesar, tergantung pada penurunan kepala janin didasar tanggul, keadaan tanggul ibu, dan ada tidaknya kegawatan pada janin.
Persalinan macet merupakan penyebab tersering operasi bedah sesar. Beberapa alasan yang dijadikan pertimbangan ialah kontraksi tidak lagi efektif, janin terlalu besar semantara jalan lahir ibu sempit, dan posisi kepala janin yang tidak memungkinkan dilakukan penarikan dengan vakum maupun forsep.
Kedua, Stres pada janin : Ketika janin stres, dia akan kekurangan oksigen. Pada pemeriksaan klinik tampak bahwa denyut jantung janin menurun. Secara normal, selama terjadi kontraksi denyut jantung janin menurun sedikit, namun akan kembali ke frekuensi asalnya, jika :
·                Prolaps tali pusat: jika tali pusat keluar melalui mulut rahim, dia bisa terjepit, sehingga suplai darah dan oksigen kejanin berkurang. Keadaan ini berbahaya jika janin dilahirkan secara normal lewat vagina, sehingga memerlukan tindakan operasi bedah sesar segera.
·                Pendarahan : Jika Pasien mengalami pendarahan yang banyak akibat plasenta terlepas dari rahim, atau karena alasan lain, maka harus dilakukan operasi operasi sesar.
·                Stres janin berat : Jika denyut jantung janin menurun sampai 70x per menit, maka harus segera dilakukan operasi bedah sesar. Normalnya denyut jantung janin adalah 120/160x per menit.

A.           Pertimbangan Dokter Sebelum Melakukan Operasi Bedah Sesar
Bedah sesar tidak selamanya baik buat kesehatan si ibu maupun si bayi. Oleh karena itu, perlu pertimbangan dari dokter spesialis kandungan. Berikut ini hal – hal yang menjadi pertimbangan dokter dalam melakukan tindakan untuk melakukan operasi bedah sesar:
  1. Proses persalinan yang memakan waktu lama atau kegagalan proses persalinan normal.
  2. Detak jantung  janin melemah.
  3. Kelelahan dalam proses persalinan.
  4. Komplikasi pre-eklampsia.
  5. Sang ibu menderita herpes.
  6. Putusnya tali pusar.
  7. Resiko luka parah pada rahim.
  8. Persalinan kembar (masih dalam perdebatan para ahli).
  9. Sang bayi dalam posisi sungsang atau menyamping.
  10. Kegagalan persalinan dengan induksi.
  11. Kegagalan persalinan dengan alat bantu.
  12. Bayi besar (lebih dr 4.2 kg).
  13. Masalah pada plasenta (ari-ari menutup jalan lahir).
  14. Kontraksi pada pinggul.
  15. Sebelumnya pernah menjalani proses bedah sesar.
  16. Sebelumnya pernah bermasalah pada proses penyembuhan peralinan normal.
  17. Angka  d-dimer tinggi bagi ibu hamil yang menderita sindrom antibodi antifosfolifid.
  18. CDC (cephhalo pelvic disproportion) proposi panggul pada kepala bayi tidak pas, sehingga persalinan terhambat.
  19. Kepala bayi jauh lebih besar dari ukurann normal (hidrosefalus).
  20. Ibu menderita hipertensi.
  21. Janin mengalami stres dan kekurangan oksigen.
  22. Ibu mengalami pendarahan yang hebat.
Berbagai institusi yang berbeda dapat memiliki pendapat yang berbeda pula mengenai kapan suatu bedah sesar dibutuhkan. Di Britania Raya, hukum menyatakan bahwa ibu hamil mempunyai hak untuk menolak tindakan medis apapun termasuk operasi bedah sesar walaupun keputusan tersebut berisiko terhadap kematiannya atau nyawa sang bayi. Negara lain memiliki hukum yang berbeda mengenai hal ini.
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright © 2013. Joko Saputro - All Rights Reserved